Kamis, 22 Februari 2018

Sepenggal Kisahku

Aku tidak pernah tahu bagaimana pentingnya seorang
wanita menutup aurat dan menjaga kemaluannya. Aku tidak pernah tahu tentang semua itu karena aku terlahir di keluarga yang miskin ilmu baik agama maupun umum. Sebelum – sebelumnya, aku memiliki presepsi aneh dengan mereka yang bercadar. Aku termakan oleh isu media. Dan aku sedikit meremehkan mereka : Ekstrim, golongan fanatik, atau istri teroris. Siapa yang menjamin media dapat bersikap objektif dalam melihat persoalan?  Dulu juga waktu ketika aku masih kecil, aku sering memanggil wanita bercadar dengan sebutan ninja ataupun hantu karena pakaian mereka hitam - hitam. Begitu banyak pikiran-pikiran yang menghantuiku ketika itu. Diri ini pun sempat takut dengan mereka yang bercadar. Namun rasa takut itu hilang setelah aku mengenal seorang yang bercadar. Bukan hanya baik ilmu tapi mereka juga baik hati. Bayangan akan diri seorang wanita bercadar yang menakutkan pun akhirnya sirna.

Tahun lalu untuk pertama kalinya aku mengenakan cadar. Meskipun waktu itu aku mengenakannya dengan telinga panas karena tetanggaku yang mengatakanku seperti ninja, teroris dan sebutan yang tidak mengenakkan lainnya. Sekarang manusia lah yang banyak berkomentar negatif dan menganggap aku wanita yang aneh. Mungkin ini salah satu balasan untuk aku ketika aku dulu menganggap aneh wanita yang bercadar, dan sekarang gantian mereka yang menganggap aku aneh. Namun setidaknya hari ini aku  sedikit merasa bebas, karena sudah tidak ada lagi laki2 lain yang bisa melihat wajahku, tidak ada lagi yang dapat memandangi aku dengan pandangan birahi atau khayalan2 yang buruk. Seandainya mereka mencela dan tidak suka terhadap pakaian aku ini (cadar), maka hal itu malah akan semakin menambah kebaikan untukku, selama aku mampu bersabar, Insya Allah.

Saat aku mengenakan pakaian itu pertama kali, diri ini merasa sangat aman dan sangat nyaman dan percaya diri, tidak seperti ketika masih bertabarruj. Memang tidak sedikit mata yang memandangku dengan pandangan yang tidak mengenakkan kala aku berjalan melewati mereka tapi alhamdulillah Allah menguatkan hatiku untuk bertahan dan berani menunjukkan inilah prinsip agama yang aku pegang.

Ilmuku tentang agama masih lemah. Imanku kadang masih naik turun. Tapi aku selalu berusaha untuk menjadi baik, lebih baik daripada ini. Pakaian ini bukan tolak ukur aku sudah sempurna dan tidak mempunyai setitikpun dosa. Aku masih melanggar dan melakukan apa yang dilarang-Nya. Aku tidak sebaik pakainku. Tapi jangan pernah mengatakan jika aku munafik, aku sedang berusaha keras  menuju kata baik seperti orang-orang itu katakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tipu Daya Syaithan

Kalian tahu tidak jika Syaithan itu bukanlah sesosok makhluk yang menyeramkan, bukan seperti kuntilanak, pocong, dll. Tapi, Syaithan itu ada...